![]() |
| Isi Goodie Bag |
Prof. Bagir Manan, S.H.,M.C.L., menjadi salah satu pembicara dalam workshop ini. Beliau menjelaskan mengenai permasalahan pers di Indonesia yang sudah bebas tetapi masih dibayang-bayangi oleh ketakutan akan hukum seperti berita yang dianggap mencemarkan nama baik, misalnya. Oleh karena itu, beliau menyarankan pada jurnalis muda seperti kita ini untuk mematuhi kode etik jurnalistik agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Prof. Bagir Manan sendiri juga berkata bahwa pers-nya mahasiswa jangan hanya terkotak dengan berita dalam kampus saja, tetapi berani keluar menuju ke masyarakat.
![]() |
| Prof. Bagir Manan, S.H.,M.C.L.,selepas acara workshop |
Pembicara selanjutnya yaitu Bapak Muhammad Ridlo mengenai bisnis dalam pers. Beliau menjelaskan bahwa koran ataupun lembaga pers lainnya akan hancur jika tidak memiliki wartawan yang profesional. Karena banyak para wartawan yang bekerja mencari berita untuk surat kabar tertentu tetapi kualitas dari berita yang ada masih kurang bahkan tidak menarik masyarakat. Sehingga membuat orang-orang enggan membeli koran tersebut.
Pak Sasongko dari Suara Merdeka, pembicara ketiga dalam workshop ini menjelaskan bahwa pers mahasiswa itu harus berani menyuarakan kejujuran. Bukan hanya isapan jempol layaknya wartawan infotainment. Beliau juga punya pendapat yang sama dengan Prof. Bagir Manan bahwa berita yang bisa didapat oleh pers kampus jangan hanya yang ada di dalam kampus tetapi juga harus keluar, mengikuti perkembangan masyarakat yang ada saat ini.
![]() |
| suasana acara workshop |
Bila ketika pembicara ini masih membicarakan mengenai pers dalam media cetak (menyinggung sedikit juga mengenai media elektronik seperti televisi) maka bereda dengan Bapak Bekti Nugroho yang membahas mengenai aturan-aturan pers dalam media online. Karena meskipun dalam dunia maya yang bisa dihapus begitu saja berita yang kita buat, tetapi bagaimanapun juga kita juga harus bisa bertanggung jawab mengenai isi yang kita buat.
By: Dita_Nuansa










